Diposkan pada Ceritaku, curhatanku, Tak Berkategori

[Ceritaku] Karena Postingan Salah Masuk Jurusan; antara Ilmu Sejarah dan ‘Kesasar’ di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Baru saja saya buka facebook dan menemukan postingan https://www.zenius.net/blog/6519/salah-pilih-jurusan-kuliah saya jadi ingat masa-masa galau saya selama semester 1 dan 2 kemarin. Saat ini sendiri saya semester 3 dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di salah satu universitas swasta. Jurusan yang saat ini saya ambil itu bukan yang saya idam-idamkan dari SMA. Sejak SMA saya ingin mengambil jurusan Sejarah gatau kenapa disaat kebanyakan orang gak suka mapel Sejarah tapi saya malah penasaran dan ingin menggali lebih dalam. Saya tidak mengikuti SBMPTN dan hanya mengikuti SNMPTN, yang jujur saja masih sering saya sesali hingga saat ini karena menurut saya saat itu saya tidak berjuang dengan sungguh-sungguh, saya selalu berandai “andaikan waktu itu saya daftar SBMPTN dan meskipun gak lolos juga tapi pasti rasanya gak akan sesakit ini karna setidaknya waktu itu saya sudah mencoba” tapi ya yang namanya penyesalan hanya penyesalan. Waktu itu, setelah tertolak oleh SNMPTN saya jadi down meskipun awalnya saya sudah memprediksi tapi ternyata pengaruhnya sangat besar sekali, kepercayaan diri saya runtuh tak tersisa dan parahnya lagi saya belum mantap dengan strategi-strategi yang saya susun sebelumnya apabila tertolak SNMPTN. Strategi saya waktu itu adalah Ujian Mandiri Ilmu Sejarah UNS Solo dan satu opsinya lainnya adalah kuliah sambil mondok di salah satu Ponpes di Banyuwangi. Opsi kedua itu atas usul Ibu saya dengan pertimbanagan; (1) Orangtua tidak akan khawatir lagi mengenai pergaulan saya nantinya karena berada di Pondok, (2) Mendapatkan ilmu agama lebih, (3) Saudara dan tetangga banyak yang disitu jadi jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu ada yang bisa dimintai tolong. Setelah saya pikir-pikir opsi yang akan saya ambil adalah Ujian Mandiri Ilmu Sejarah UNS Solo karena waktu itu yang menjadi pertimbangan saya adalah; (1) Perguruan tinggi di opsi kedua masih terhitung baru, (2) Saat MA (setingkat SMA) saya mondok dan jujur saja waktu itu katakanlah saya ‘bosan’ dengan lingkungan Pondok, sedangkan menurut cerita dari yang menjalani, Ponpes disana sistemnya cukup ketat, (3) Banyuwangi dari daerah asal saya itu jauh sekali.

Kemudian saya bilang ke orangtua jika saya mau nyoba Ujian Mandiri Ilmu Sejarah di UNS Solo, Ibu saya tidak menghendaki saya kuliah di Solo, alasannya Solo itu jauh ditambah lagi jurusan yang akan saya ambil adalah Ilmu Sejarah yang waktu itu Ibu saya hanya berkomentar “mau jadi apa kamu?”. Saya jadi mikir, iya ya nanti saya mau jadi apa, memang sih ada yang bilang, “kuliah ya kuliah aja, ambil ilmunya, urusan mau jadi apa udah ada yang ngatur” tapi masa iya saya kuliah gak ada goals kedepannya. Waktu itu saya putuskan kuliah tahun depan saja sembari satu tahun jeda ini saya mantapkan hati dan tujuan saya. Saya merenung lagi dan lebih suka berada di dalam kamar.  Ibu saya yang khawatir karna saya lebih senang menindiri akhirnya meminta pendapat ke saudara dan tetangga yang mengerti dunia perkuliahan.  Mereka menyarankan kampus ini itu yang rata-rata adalah kampus Islam mengingat riwayat pendidikan saya dari MI, MTs, dan MA. Saya bilang kalau saya tertarik mungkin saya akan medaftar sedari awal tapi untuk kuliah ini saya mau di universitas umum saja karna saya mau cari hal yang baru, keluar dari zona aman saya selama ini. Kemudian mereka mulai menyarankan universitas-universitas swasta yang masih buka pendaftaran karena pada saat itu rata-rata kampus negeri sudah tutup pendaftaran dan bahkan ada yang sudah melakukan kegiatan Orientasi. Pada malam hari, salah seorang sepupu ipar saya datang berkunjung ke rumah dan basa-basi bertanya saya meneruskan kuliah dimana, Ibu saya berterus terang dan menyampaikan keluh kesahnya. Kemudian dia memberi tahu kampus tempat sepupu saya (istrinya) kuliah dulu. Setelah bertanya-tanya akhirnya saya putuskan untuk mendaftar di kampus itu apalagi dengan ketidaksetujuan orangtua saya ketika saya bilang ingin kuliah tahun depan. Saya mendaftar lewat online dan ketika mengisi kolom jurusan saya bingung, waktu itu yang menjadi 3 besar bagi saya adalah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan Pendidikan Bahasa Inggris. Saya menghapus list Pendikan Bahasa Inggris karna saya tidak terlalu jago Bahasa Inggris, dan juga saya berpikir pasti skripsinya susah hehe ya saya mikir sampai segitu. Akhirnya saya mengisi list pertama Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia karna saya pikir Bahasa Indonesia itu mudah dan selama ini saya senang-senang saja dengan mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. List kedua saya isi Pendidikan Guru PAUD karna katanya guru PAUD saat itu sedang banyak dibutuhkan. Setelah mengikuti tahap tes tulis dan wawancara, saya diterima. Tapi lagi-lagi saya masih bimbang, saya masih berharap kuliah di jurusan Ilmu Sejarah. Jadi saat ditetapkan tanggal daftar ulang, saya mangkir. Saya bilang ke orangtua jika saya tidak jadi mengambil kuliah disitu. Ayah saya marah hingga saya didiamkan dan Ibu saya menyerahkan keputusannya kepada saya meskipun kecewa. Saya pikir Ayah saya hanya marah sebentar saja kemudian baik lagi, tetapi saya didiamkan hampir seminggu, waktu itu saya tidak ambil pusing dengan marahnya Ayah saya karena saya pikir saya berhak mengambil keputusan saya sendiri. Hingga pada suatu hari ketika saya membuka sosmed dan grup chatting kelas, disitu teman-teman saya berkeluh kesah dan sharing mengenai apa yang akan mereka jalani, bahkan ada yang sudah melaksanakan masa Orientasi. Ada setitik rasa iri dihati saya ditambah lagi dengan Ibu saya yang selama ini diam dan setuju-setuju saja dengan keputusan yang saya ambil mulai menyampaikan pendapat-pendapatnya. Saya melihat betapa besar harapannya kepada saya. Akhirnya saya kuliah disana.

Diposkan pada Tak Berkategori, Tugas Kuliah

Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami Menggunakan Teori Robert Stanton

Nama : Novi Fitriyatun Nisa

Kelas  : PBSI 2D

NPM   : 16410171

 

A. Fakta Cerita

  1. Tema

Tema yang terdapat pada cerpen Robohnya Surau Kami terletak pada persoalan batin yang sedang dialami kakek Garin setelah mendengar bualan dari Ajo Sidi. Kakek yang selam hidupnya mempertaruhkan segallanya demi mendapat ridho Allah bahkan sampai tidak menikah, memiliki istri, anak serta cucu. Ajo Sidi datang menyindir kakek dengan menceritakan kisah mengenai Haji Saleh.

Gambaran tersebut terletak pada penggalan cerpen :

“Sedari mudaku aku disini, bukan? Tak ku ingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, ku serahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka…. Tak ku pikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada umatNya yang tawakkal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul bedug membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepadaNya. Aku bersembahyang setiap waktu. Aku puji-puji dia. Aku baca KitabNya. “Alahamdulillah” kataku bila aku menerima karuniaNya. “Astaghfirullah” kataku bila aku terkejut. ” Masa Allah bila aku kagum.” Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.”

Kemudian ditegaskan kembali, yaitu:

“Tidak, kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan diri mu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kaum mu sendiri, melupakan kehidupan anak istimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. Inilah kesalahan mu yang terbesar, terlalu egoistis, padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.”

Dengan demikian, jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya, sehingga kelalaian itu menimbulkan gejolak yang teramat besar dalam batinya.

 

  1. Latar

a) Latar tempat : kota, dekat pasar, jalan raya, ujung jalan, di surau, dll.

“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolan ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.”

b) Latar waktu : sekarang, sedari muda, dll.

“Jika tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kebencian yang bakal roboh”

“Sedari mudaku aku di sini, bukan?”

  1. Penokohan

a) Tokoh Aku

Pengarang melukiskan tokoh Aku sebagai orang  yang ingin tahu perkara orang lain. Seperti kutipan berikut :

 “ Tiba-tiba Aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya . Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu Aku tanya pada Kakek lagi : “Apa ceritanya,kek?”

1) Haji Saleh

Tokoh ini merupakan karangan Ajo Sidi yang sengaja dimunculkan untuk menyindir kakek. Haji Saleh digambarkan sebagai orang  terlalu mementingkan diri sendiri. Demi mendapat ridha Allah dia melupakan kehidupan duniawinya.

2) Ajo Sidi

Si tukang bual yang hebat karena siapapun yang mendengarnya pasti terpikat. Seperti kutipan berikut:

“…Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tidak bertemu dia. Dan aku ingan bertemu dia lagi. Aku senag dengan bualanya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaanya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirnya. Ada-ada saja orang disekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya.”

3) Si Kakek

Pengarang menggambarkan tokoh kakek sebagai orang yang mudah dipengaruhi dan gampang mempercayai omongan orang, pendek akal dan pikiranya, serta terlalu mementingkan diri sendiri.

Gambaran tokoh Kakek yang terlalu mementingkan diri sendiri dilukiskan melelui ucapannya sendiri, seperti kutipanberikut:

“sadari mudaku aku disini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga, seperti orang-orang lain, tahu? Tak terpikirkan hidupku sendiri…”

4) Titik Pengisahan

Titik pengisahan adalah kedudukan atau posisi pengarang dalam cerita tersebut. Titik pengisahan cerpen Robohnya Surau Kami yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat didalam cerita. Seperti pada kutipan berikut:

“Kalau beberapa tahu yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar.”

  1. Alur

Bagian Awal

Pada bagian awal cerita ini yang terdapat dalam cerpen RSK terbagi atas dua bagian, yaitu bagian eksposisi, yang menjelaskan/ memberitahukan informasi yang diperlukan dalam memahami cerita. Dalam hal ini, eksposisi cerita dalam cerpen ini berupa penjelasan tentang keberadaan seorang kakek yang menjadi garim di sebuah surau tua beberapa tahun yang lalu, seperti yang diungkapkan pada data berikut :

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku …. akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di surau dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garim, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya kakek.

Dan yang kedua adalah sebagai instabilitas (ketidakstabilan), yaitu bagian yang didalamnya terdapat keterbukaan.

Yang dimaksud disini adalah cerita mulai bergerak dan terbuka dengan segala permasalahannya. Perhatikan data berikut :

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya

Berdasarkan uraian di atas tampak jelas bahwa yang dimaksud cerita mulai bergerak dan tebuka adalah karena informasi ini belum tuntas bahkan menimbulkan pertanyaan, mengapa si Kakek wafat dan bagaimana hal itu bisa terjadi ? sehingga ketidakstabilan ini memunculkan suatu pengembangan suatu cerita.

Bagian Tengah

Bagian tengah dimulai dengan jawaban atas pertanyaan yang muncul, seperti yang disebutkan dalam bagian awal. Jawaban itu sedikitnya menggambarkan suatu konflik, bahwa si Kakek wafat karena dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Data untuk ini seperti berikut:

… Kakek begitu muram. Di sudut benar dia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu kedepan, seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya. Sebuah blek susu yang berisi minyak kelapa sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek.

Bagian Akhir

Pada bagian akhir membuat pembaca terkejut akan penyelesaian konflik yaitu si Kakek garin itu meninggal dengan cara mengenaskan, justru Ajo Sidi menganggap hal itu biasa saja bahkan dia berusaha untuk membelikan kain kafan meskipun hal ini dia pesankan melalui istrinya. Data berikut menggambarkan hal ini.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku tanya dia. “Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.

“Tidak ia tahu Kakek meninggal ?”

“Sudah. Dan ia meniggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab,” dan sekarang ke mana Dia ?”

“Kerja.”

“Kerja ?” Tanyaku mengulang hampa

“Ya. Dia pergi kerja.”

Jika struktur alurnya seperti di atas maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur regresif atau alur flash back (sorot balik). Dikatakan demikian karena benar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya, yang oleh tokoh Aku kisah itu diceritakan.

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis.… Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua…. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang Tua…. Orang-orang memanggilnya kakek… Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal…. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya. Dan besoknya, ketika Aku mau turun rumah pagi-pagi istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. “Siapa yang meninggal?” Tanyaku kaget.

“Kakek.”

B. Sarana Cerita

  1. Judul

Judul cerpen Robohnya Surau Kami pengarang menggunakan simbol. Dalam hal ini Roboh yang dimaksud bukan Roboh bangunan fisiknya, tetapi Roboh yang dimaksud adalah Roboh karena surau itu sekarang sudah tidak digunakan lagi selayaknya tempat ibadah, serta robohnya nilai-nilai agama. Surau adalah tempat ibadah, nama lain dari masjid atau musholla. Suaru di sini merupakan simbol kesucian, keyakinan.

  1. Gaya

Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), seperti garin, Allah Subhanau Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan pahala, Surga, Tuhan, beribadat menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu, hamba-Mu, kitab-Mu, Malaikat, neraka, haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id, juga Sedekah.

Selain itu pengarang juga banyak mengguakan majas serta simbol. Majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang, yakni tokoh Haji Saleh dan kehidupan di akhirat, atau lebih tepatnya menggunakan majas parabel (majas ini merupakan bagian dari majas alegori) karena majas ini berisi ajaran agama, moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Pengarang juga menggunakan majas Sinisme seperti yang diucapkan tokoh aku: ”…Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi”.

Simbol dalam cerpen Robohnya Surau Kami terdapat pada judulnya.

  1. Simbolisme

Judul cerpen Robohnya Surau Kami pengarang menggunakan simbol. Dalam hal ini Roboh yang dimaksud bukan Roboh bangunan fisiknya, tetapi Roboh yang dimaksud adalah Roboh karena surau itu sekarang sudah tidak digunakan lagi selayaknya tempat ibadah, serta robohnya nilai-nilai agama.

  1. Ironi

Ironi dalam cerpen Robohnya Surau Kami adalah kepercayaan bahwa setiap orang yang melakukan kebaikan, mengerjakan sholat 5 waktu, membayar zakat, melafalkan sholawat, membaca kitab-Nya akan mendapat ridha Allah dan terhindar dari siksa neraka, namun kenyataannya tak sesuai dengan harapan yang selama ini diyakini.